Thursday, July 25, 2013

You're Going to Hollywood! I mean, Orlando!

Rabu, 24 Juli, 2013. 5.15 pagi. Langit masih gelap, suasana kembali hening setelah kerusuhan sahur satu jam sebelumnya.

Tapi ketenangan dinihari yang syahdu ini nggak bertahan lama, karena sejurus kemudian, henfon gue ndilalah malah krang-kring. Terdengar suara alto Dara di ujung sana, "Maaaak, gue udah di depan, yaaa..."

It's time *pasang lagu Rocky*

 ***

Lebay banget ya? Padahal mau ke kedutaan Amerika doang, sik, wawancara visa. Tapi percayalah, bagi gue pagi itu, hal tersebut adalah big deal, because I was so not ready to go to embassy that morning.

Gue inget persis, malem sebelumnya gue baru tidur jam 23.30 malem, dan di tengah malam, gue tetiba melek sambil mikir, "Kayaknya udah saur nih. Gue bangun aja, deh." Eh, ternyata masih jam 2.30 subuh aja dolo! Dan dari jam segitu sampe subuh, gue melek-semeleknya.

Plus, gue lagi agak demam sejak dua hari sebelomnya (y u so funny, God?), sampe sempet bolos puasa *alesan!*

Intinya, pada jam 5.15 dini hari tersebut, disaat Dara udah nangkring depan pager rumah, gue malah merasa amat lemes dan nggak siap jalan ke kedutaan. Huhuhu. Pas ngaca, muka tampak busuk sebusuk-busuknya.

Tapi ya masa mau batal? Jadi setelah mandi koboy, we marched towards the embassy.

Ketika kami tiba di kedutaan jam 6.15, udah ada sekitar 20-30 orang ngantri sebelom kita.

Secara garis besar, antrian di kedutaan Amerika terdiri dari beberapa bagian: 

Pertama, antri di luar pagar kedutaan. Di tahap ini, terjadi pengecekan nama - apakah betul kita ada janji wawancara hari itu - dan security scanning. Segala benda berbahaya, elektronik, dan makanan-minuman harus dititipin ke petugas.

Kedua, antri di halaman kedutaan. Di tahap ini, kita kudu nyerahin lembar konfirmasi D-160 dan paspor kita ke petugas kedutaan.

Ketiga, antri di dalam gedung kedutaan. Di tahap ini, terjadi ten-printing, alias pengambilan sidik jari kesepuluh jari kita.

Terakhir, wawancara.

Kami mulai ngantri sekitar jam 6.20 pagi, dan ketika pada akhirnya saya dan Dara diwawancara, waktu menunjukkan sekitar pukul 8.30. Not bad. Lucunya, selama menunggu, segala rasa lemes dan pusing gue menguap. Dan juga, kami nggak ngerasa gugup sama sekali! Belom 'kali ya?

However, ketegangan kembali muncul saat kami mulai antri untuk wawancara. Jeng jeng!

Titik paling menegangkan adalah disaat kami ngantri untuk diwawancara. Soalnyaaa, kita bisa liat / nguping wawancara orang-orang sebelum kita!

It was hilarious yet scary at the same time. Gue dan Dara sampe jadi berkepribadian ganda, gitu. Kami ngikik-ngikik kalo para kandidat sebelum kita ngasih respon-respon jenaka saat wawancara, tapi terus sikut-sikutan sambil bisik-bisik, "Jahat yaaaa pake ngetawain... Awas kualat looo..." Trus sedetik kemudian, ya ngikik-ngikik lagi. Mental bully emang susah dirobah sih, ya.

Berikut contoh-contoh kejenakaan yang terjadi:

1.
"What is the purpose of your visit to US?"
"For conference."
"What conference?"
"Mmm... Agriculture."
"Can you be more specific?"
"Mmmm... flower?"

2.
"So what do you do now?"
"I just graduated from high-school."
"OK. Who's paying for your trip?
"Myself."
"Yourself?!"
"Eeeh! I mean my parents!"
"What does your parents do?"
"Farmer."
"Oh, do they own their own farm or do they work for someone else?"
"Yes."
"No, no. I'm asking you, whether your parents own their own farm, or do they work for someone else?
"Yes."

Zzzzzz.

3.
"What do you do, Sir? Where do you work?"
"Nggak kerja, sudah pensiun! Sekarang mau jalan-jalan ke Amerika!"
"OK. Why? Kenapa pensiun?"
"Umur!" 
"Umur?"
"Ya, umur!"

Walau bisa bahasa Indonesia, sang bule nggak nangkep maksud dari term 'umur'. Maksudnya si bapak 'kan, "Saya udah tua, sudah umur pensiun," gitu ya. Tapi si bapak koar-koar aja tanpa elaborate. Kacian si bule, bingung...

4.
"Have you had a US visa before?"
Ngangguk.
"Where did you go to US before?"
"Yes."
"No, I ask you, where did you go? Dulu kemana?"
"Oh, belom belom!"
"Belum pernah ke Amerika?"
Nggeleng.
"But you had the visa?"
Ngangguk.
"Why didn't you go last time?"
Nggeleng.

Kepiyeeee...

Tapi percaya atau nggak, semua contoh yang gue sebutkan diatas tuh lolos lho! Memang tergantung amal dan ibadah sih, ya.

Ada satu hal yang cukup mengagetkan buat gue - kayaknya, nggak semua kandidat datang ke kedutaan dengan semacam persiapan mental. Maksud gue bukan persiapan bahasa, ya, karena para bule pewawancara ini bisa bahasa Indonesia. 

Contohnya gini: menurut gue, salah satu hal utama yang harus diingat oleh para kandidat visa adalah, lo harus meyakinkan orang kedutaan, bahwa lo PASTI pulang. Lo harus membuktikan, bahwa ikatan lo dengan Indonesia itu KUAT. Entah karena punya kerjaan mahapenting di Indonesia kek, punya anak suami disini kek. Bagi gue, itu common sense yang sangat jelas. 

Tapi banyak kandidat yang ngasih jawaban plin-plan dan mencurigakan. Pas ditanya, mau berapa lama di Amerika? Jawabnya, nggak tau. Mungkin sebulanan, liat nanti. Pas ditanya, ke Amerika ditanggung oleh siapa? Dijawab, oleh kakak yang udah jadi warga negara disana. Ditanya lagi, kakaknya kerja apa? Dijawab, waitress. Yaaah, mana meyakinkan? Ngibul dikit kek kayak gue!

Walaupun mungkin mereka nggak berniat menyalahgunakan visa mereka, they didn't sound convincing. Heck, that didn't even convince me.

By the way, here's a fun fact: gue dan Dara ngantri wawancara visa bareng Tohpati dan band-nya. Ternyata mereka mau manggung di Amerika. Menurut gue pribadi, jawaban-jawaban wawancara anggota band-nya Tohpati juga nggak mulus. Tapi mereka lulus semua, tuh. Yay!

***

Pada akhirnya, tiba giliran gue untuk diwawancara.

Pewawancara gue adalah seorang bule cewek, muda, cantik, dan selon banget. I like her. My interview was only for, like, 2 minutes? Mungkin karena gue pernah beberapa kali ke Amerika dan punya bermacam-macam visa di paspor lama (SYIT, SOMBONG BANGET SIH?!), jadi wawancaranya terasa basa-basi.

The questions were:
Mau kemana?
Berapa lama?
Sama siapa?
Punya sodara di Amerika?
Boleh liat paspor lamanya?
Dulu ke Amerika untuk apa?
Dulu kerja apa?

And we're done! My visa approval was given without hesitation.

Ya Allah, Alhamdulillahirobbilalamiiin. Thank you!

Kemudian, giliran Dara.

Karena gue harus mundur kebelakang, gue nggak bisa nguping wawancara Dara. Gue cuma bisa lihat intonasi dan gestur tubuhnya. Alhamdulillah, tampak pede, mulus, tanpa keraguan, bak anchor MetroTV.

Dara's interview was a bit longer than me. It was expected, though. What's important was that in the end...











... her visa approval was also given without hesitation.

AAAAAACCCCKKKKK!!!! WE'RE GOING TO HOLLYWOOD!!! I MEAN, ORLANDO!!!

Pas Dara melangkah keluar dari counter wawancara sambil melambai-lambaikan kertas approvalnya, kami langsung chanting, "U-S-A! U-S-A!" lengkap dengan kepalan tangan diputer-puter. HAHAHAHA, syit, ternorak sejagad raya. Abis itu kami tos-tosan sambil ketawa-ketiwi, padahal belum keluar dari ruangan interview. Hahahahaha. Anak kampung mana, nih, mau ke Amerika?

Couldn't help it! We were so, so happy and relieved. 

Setelah keluar dari ruangan, Dara cerita singkat mengenai wawancaranya.

Yang kocak adalah pas Dara menyatakan bahwa bokap gue yang akan nanggung sebagian biaya perjalanannya. Sang pewawancara nanya, kok bapake temenmu mau aja bayarin kamu?

Dara: "Well, we've been friends for a long time, and I think he's glad I can go with her daughter. *harusnya sampe sini cukup ya, tapi dilanjutin dong*.... And because... He is a great man!"

*tiup terompet patriotik*

TAEEEEE, HAHAHAHA.

***

Oya, gue baru tau, bahwa selepas wawancara, kalo kita sukses dan dapet visa, kita bakal difoto sambil bawa kertas bertuliskan, "I'm going to _______!" dengan gaya bebas. Blank-nya isi sendiri pake spidol.

Sebenernya gue pengen banget nulis 'Orlando' atau 'Disney World', tapi karena terlanjur menyatakan akan pergi ke California, gue terpaksa nulis California.

Yastralah. Maka kami foto dengan gaya se-euphoria mungkin sampe bule tukang fotonya ketawa. Totally couldn't contain the happiness!

I'm going to the U.S.
Pembohooong!

***

Kelar wawancara, saya pulang, sementara Dara balik ke kantornya. Konon emak-bapaknya sampe senewen, SMS dan nilpun mulu, nanya hasil, hahahaha.

Maaak... we're going to Disney World!

3 comments:

doena said...

hahahaahaha, ngakak lihat caption foto paling bawah "pembohong"

segalanya dilakuin ya biar visanya keluar :D

Leija said...

Doena: Bangeeet :))) Duuuh, semoga nggak ada petugas kedutaan mampir kemarih yak :D

seLy said...

selamaaat..!
kalau temen gw ada yg ditanya

Kamu gajinya berapaaa?

dihadapan puluhan orang lainnya
wkwkwk...