Sunday, July 21, 2013

Visa Schmisa

Sebelom bisa foto cantik di depan Cinderella's Castle di Walt Disney World, ada foto lain yang lebih penting untuk dilakukan. Yaitu pasfoto. Untuk visa. Hhhhh.

Ya, begitulah. Sebelom bisa ke Amerika, tentunya harus bikin visa terlebih dahulu. Dan bagi kita orang Indonesia, bikin visa Amerika tuh seringkali jadi momok. Banyak denger kisah-kisah (lebay) yang menyuratkan bahwa masuk Amerika tuh lebih susah daripada masuk sorga, gegara visa-nya susah didapat. Ck ck ck.

Actually, I probably shouldn't worry. Kalo ditotal-total, gue udah 3 kali punya visa Amerika, untuk 4 kali trip kesana. Visa gue yang terakhir expire tahun lalu, maka untuk taun depan, gue akan bikin yang ke-4. SADDDAAAPPP.

So in theory, getting another visa for me should be a chinch, right?

Harusnya, sih. Tapi entah, gue nerfes banget. Setelah dipikir-pikir, kayaknya gue nerfes atas nama Dara, sih. I really wanted her to come along, dan hal tersebut dimulai dengan kesuksesan dia dapetin visa, dong, ya.

Anyway, perjalanan pembuatan visa kami kira-kira begini...

Disclaimer: tujuan postingan ini BUKAN untuk menginfokan langkah-langkah pembuatan, ataupun memberikan tips-tips. Kalau perlu info untuk hal-hal tersebut, di-Google aja, ya.

PASPOR

Proses pembuatan visa kami dimulai sejak dua minggu lalu. Diawali dengan gue bikin paspor baru, berhubung paspor lama gue habibah! Alias habis!

RISET

Sementara paspor gue diproses, Dara ngobrak-abrik Internet untuk riset perihal pembuatan visa Amerika. Website pertama yang diobrak-abrik tentunya website kedutaan, demi mendapatkan info-info resmi. 

Yang kemudian diobrak-abrik adalah blog-blog lokal yang memuat pengalaman para bloggernya dalam mendapatkan visa Amerika. 

BOOOKKK, asli yaaa... Gue dan Dara ngakak berhari-hari baca blog-blog tersebut. Banyak banget kisah kocaknya! Utamanya saat proses wawancara. 

Contoh!

Sebutlah seseorang bernama Tuti Sri Wedari. Tuti mendapat undangan konferensi mahasiswa di Amerika. Maka berangkatlah ia ke kedutaan. 

Ketika namanya dipanggil untuk wawancara, Tuti maju dengan gagah perkasa (walau keringet ngucur segede-gede jagung) dan langsung nyerocos:

Siti: Hello! Good morning, Sir! My name is Tuti. My surname is Wedari. My middle name is Sri. So, my full name is Tuti Sri Wedari.
Bule pewawancara: ..............

Percaya diri itu bagus, tapi kali bablas kok ngeri, ya.

Setelah berhari-hari ngakak sembari tegang baca-baca pengalaman orang, gue menyimpulkan bahwa mendapatkan visa Amerika tuh hoki-hokian. Tahukah Anda, petugas kedutaan dilatih untuk menilai seseorang hanya dalam waktu 1 menit? Therefore, everything counts. Not just your documents and travel history, but also your facial expressions and body gestures.

Oh, gue juga menyimpulkan ini: jangan 100% percaya sama kata orang. Bingung! Ada yang bilang, booking-an tiket pesawat harus dibawa ke kedutaan, ada yang bilang nggak usah. Ada yang bilang, dapetin visa Amerika tuh gampang banget, ada yang musti ditolak berkali-kali dulu. Learn about others' experiences, but follow your own judgement in preparing your interview.

DOKUMEN

Setelah cukup browsing-browsing (dan paspor baru gue udah di tangan), gue dan Dara mulai bergerilya mengumpulkan segala dokumen yang diperlukan, mulai dari yang gampang seperti Akte Lahir dan KK, sampe yang ngeselin seperti surat-surat harta (takut ketauan kisminnya, nih...), bayar visa (Rp1,6 yuta!), dan PASFOTO. 

Bagi jilbabes, pasfoto visa Amerika tuh nyusahin, karena kuping dan jidat harus keliatan. Some got away with it, dan tetep lolos walau fotonya pake jilbab. Good for them.

Tapiiii... gue pribadi pernah daftar visa Amerika, lalu diusir pulang di kedutaan gegara pasfoto gue berjilbab. Dan gue kesel banget. So, this time, we're not taking chances. Bye, bye jilbab! Sutralah inang. Jangan hakimi imanku kalah sama jalan-jalan *padahal emang iya*

Trus, lo tau 'kan, kemungkinan pasfoto sukses tuh hanya sekitar 5%. Hasilnya selaluuuu jelek, walau kita udah pupuran. Kalo mikap udah kece, senyumnya pasti aneh. I myself always caught between smiling or not. Half-smiles are the creepiest. Aku benci foto ID!

 Our mugshots. Yang satu bak imigran gelap madesu, yang satu bak bencong dandan.
Guess which one which?

Oya, demi mendongkrak kemungkinan kesuksesan, bokap gue berbaik hati menawarkan diri menjadi penjamin. Kasarnya, pura-puranya bokap menanggung biaya perjalanan kami. Hal ini disahkan oleh selembar surat sakti yang berkop surat perusahaan, dan menyatakan bawa gue dan Dara ditanggung oleh perusahaan bokap. Made me feel like a spoiled brat, but whatever. Apapun yang bisa ningkatin kesuksesan visa, deh.

FORMULIR ONLINE

Setelah dokumen kami dirasa komplit, gue dan Dara mulai isi-isi formulir online. Ini juga ribet, deh. Pertama, karena data identitas kita harus akurat ("Pernah ke Amerika sebelumnya? Taun berapa? Tanggal berapa?" Lupa dong, masnyaaa...). 

Kedua, karena dalam permbuatan visa ini, gue dan Dara pake ngibul dikit. Ih, kok bertentangan sama poin pertama?

Jadi gini, as you know, kami berencana pergi taun depan. Plus, gue akan masuk dan keluar Amerika dari Orlando. Gue khawatir kedutaan akan bawel nanya-nanya, karena nggak banyak orang Indonesia liburan ke Orlando DOANG. Mana berangkatnya masih lama banget. Pergi masih seabad lagi, kok bikin visanya sekarang?

Dengan demikian, terbentuklah suatu skenario. Kami ngakunya berangkat taun ini, ke California. Ceritanya mau liburan mainstream-mainstream aja, deh.

Jadilah kami menciptakan itinerary palsu, bukingan tiket palsu, bukingan hotel palsu, kepribadian palsu, dan lain sebagainya. Tentunya, kebohongan di formulir Dara dan gue harus mecing, tho.

*aduuuh, aku tatut blog ini dibaca orang kedutaan... huhuhu*

Akibatnya, perihal isi-isi formulir ini juga lumayan bikin pening.

Oya, hampir lupa cerita. Ada satu lagi 'white lie' yang kami ciptakan.

Jadi, kami 'kan harus meyakinkan kedutaan, bahwa kami PASTI balik ke Indonesia, karena punya keterikatan yang kuat di kampuang halaman. Gue sih gampang, karena gue punya anak dan suami disini. Pasti pulang.

Dara gimana? Terpaksa, deh, Dara nyari temen lakinya yang mau diaku sebagai tunangan palsu demi foto-foto mesra, untuk kemudian dibawa ke kedutaan, hahahaha... pret.

Kenapa harus laki lain? Padahal Dara tuh punya pacar beneran, lho. Karena, menurut doi, "Muka laki gue muka orang susah. Nggak keliatan mapan siap kawin." KASIAN KAMU, TRIIII! :))))

VAVANCARA

Kelar ngurusin dokumen, formulir, serta menetapkan tanggal ke kedutaan, naaah... baru deh kita nyiapin mental untuk wawancara.

Untuk ini, Dara dan gue sampe telpon-telponan tiap hari saking parnonya. And at one time, dese sampe main ke rumah gue malem-malem demi latihan wawancara.

Our rehearsals were hilarious.

Me (ceritanya jadi pewawancara): Hi, good morning! How are you?
D: I'm fine, thank you! How about you? How are you?
Me: KAGAK USAH DITANYA BALIK KALEEE! Akrab amat!

*bubar ngakak*

Me: So, who's paying for your trip?
D: Partly myself, but my friend's father also guarantees our well-being in US, and our return to Indonesia.
Me: What does your friend's father do?
D: He runs his own business. He owns a multinational company...
Me: Bukaaaan! Bapak guah bukan pemilik perusahaan multinasional!
D: He is the owner of.... mmmm.... mmmm... my heart?

*bubar ngakak*

Me: Who's sponsoring your trip?
D: Mr. XXX (nama bapak akika), the owner of PT XXX
Me: What is his relationship to you?
D: Mmmmm.... my.... secret lover?
Me: *kesel tapi ngakak* Tae ah, serius dooong...

Despite all that, per hari ini kami udah siap tempur. Dokumen udah lengkap, jadwal wawancara udah ditetapkan, dan mental pun Insya Allah siap diwawancara. I'll be reporting back to you next week, after the results' are out.

Bismillah! Pede tapi ikhlas!* Hu-ha!!!

*motto yang diciptakan Dara, berhubung kami udah keluar Rp1,6 yuta buat daftar visa. Kalo gagal 'kan duitnya melayang, huhuhu. Semoga beneran pede tapi ikhlas, deh.

5 comments:

Mita said...

Ya salam Lei! ini mah beneran bisa bikin orang jiper mau apply visa amerika..hahahaha

Tapi waktu itu gue pake trik curang sih, yaitu eksploitasi anak sendiri. Gue bawa Aksara ke kedutaan, dan jadinya gak perlu antri berdiri, dan pewawancara gegemesan sama aksara..Makasih ya nak ;*

Leija said...

Mita: Ahahaha, noted! Lain kali gue gembol Raya dan ponakan gue deh sekalian.

Etapi gue males banget sik mengulang prahara daftar visa USA lagi. Next time gue mau langsung perpanjang sblm visa-nya abis ah, biar lebih capcus. Pede aja bakal ke Amerika-Amerika lagi, yagak miccch? :D

Lincrut said...

Ya ampun itu latian wawancaranya kocak bangeeeeet....

Btw gw dulu pernah diceritain bokap gw katanya parah2 banget ada yg bilang mo berobat katanya ah ngapain jauh2 ke usa, ada lagi mo jalan2 katanya negara lain juga bagus2, pokonya nyebelin banget deh hehe

Anonymous said...

"Dara gimana? Terpaksa, deh, Dara nyari temen lakinya yang mau diaku sebagai tunangan palsu demi foto-foto mesra, untuk kemudian dibawa ke kedutaan, hahahaha... pret.."

HUAHAHAHAHAHA!!!!

Gw dulu apply US visa dengan melampirkan surat jaminan pulang Indonesia karena mau kewong dari tunangan (gadungan) komplit dengan kop surat kantornya. Padahal tuh laki cuma temen ngerokok bareng doang & kebetulan kantornya seberangan sama kantor gw. Gw todong aje bikin surat jadi2an. Yang penting dapet visa ya maaak

Pernah juga pas masih muda belia, waktu ngantri wawancara kok ya gw sukses muntah2 saking nervesnya. Eh malah langsung di approve loh, yang wawancara kasian kali ye sama gw yang udah lemes pisan. Hamdallah aja deh yaa yang penting dapet visa :))))

Leija said...

Lincrut: Ih, itu pasti jaman sebelum Amerika resesi yaaa. Somse amat Amerikah! :D

Anon: Hahahahaha... perihal jaminan pulang tuh emang ketar-ketir yaaa. Apa gue perlu buka jasa jadi tunangan bo'ongan? #peluang