Tuesday, November 26, 2013

5W1H, Part 2

FYI, can you frickin’ believe that our epic trip is just 60 days away?

Arrrrggghhh!?!@^%&%$

Anyway, kita kembali ke pembahasan 5W1H, ya. Part 2!

How?
Prahara tiket, oh, prahara tiket.

Sebenernya ada banyak jalan menuju Amerika. Maksudnya, pilihan maskapai untuk ke Amerika, tuh, bejibun. Tapi 70% dari rute maskapai tersebut terbangnya ke Los Angeles, San Francisco, atau New York. 25% sisanya terbang ke kota-kota besar lain seperti Boston atau Chicago.

Trus, cuma 5% maskapai yang memberi connecting flight ke kota-kota ‘nggak umum’ seperti tujuan kami – Orlando, Florida.

Bisa aja, sih, gue terbang sampe LA atau NY doang (naik Singapore Airlines, EVA Air, China Airlines, Malaysian Airlines, dll), trus beli tiket pesawat domestik terpisah menuju Orlando (naik Southwest, JetBlue, AA, dll). Tapi gue maleeees banget nyari tiket domestik plus nyocok-nyocokin jamnya.

Lagian, harganya nggak menjadi lebih murah. Malah suka lebih mahal.

Setelah ditilik, cuma ini maskapai-maskapai (terjangkau) yang melayani penerbangan dari Jakarta sampe Orlando:

United Airlines
ANA Air
Japan Airlines
Etihad Airways
Emirates Airline
Qatar Airways
Korean Air

Dah, cuma itu doang yang terjangkau kantong kami. Sisanya, bhaaay... mahal banget.

Awalnya, kami milih penerbangan termurah, yaitu dengan United / ANA / Japan Airlines. Rese-nya, mereka transit di Tokyo belasan jam, sehingga kami wajib nginep disana. Artinya, harus cari hotel deket airport Tokyo. Artinya, harus bikin visa Jepang temporer. Tadinya, sih, mau-mau aja. Toh sekalian istirahat, supaya penerbangan puluhan jam Indonesia – Amerika nggak berasa berat.

Tapi setelah dipikir-pikir, males gilak harus ngurus visa Jepang dan nyari hotel lagi.

Plus, I heard United sucks big time, especially for international flights
. Maaf ya, Ted.

Maka, selamat tinggal maskapai Jepang! Selamat tinggal United!

Pilihan kedua kami adalah Korean Air. Denger-denger pesawat dan servis mereka bagus banget. Jam penerbangannya pun OK (mendarat di Orlando nggak terlalu malem, terbang balik ke Jakarta nggak terlalu subuh).

Tapiii, harga yang kami dapet kok lemayan mahaaal... Plus, kudu transit di Seoul 10 jam. Aduh, males, ya.

Pilihan ketiga kami adalah geng Arab – Etihad / Emirates / Qatar.

Sebenernya maskapai-maskapai Arab, nih, nyaris ideal. Kualitasnya bagus, durasi transitnya nggak terlalu kejam, harganya pun masih kejangkau. Yang ngebikin agak males adalah karena mereka mendarat di Orlando pada malam hari, sehingga akan membuat kami rugi hotel sehari. The worst is Etihad, karena dia mendarat di Orlando jam 11 malam. Tapi di sisi lain, tiket Etihad adalah yang termurah diantara ketiga maskapai ini.

Setelah mikir panjang (asli, panjang. Personal deadline gue untuk beli tiket adalah Oktober, tapi karena kelamaan mikir, November baru bikin keputusan), akhirnya kami milih untuk terbang bersama...

... Etihad! Plok, plok, plok.

Yastralah. Nasib kalo emang harus mendarat di Orlando jam 11 malem, dan baru nyampe hotel jam 2 pagi, sehingga rugi kamar sehari.

Jadi, gini. Kami bakal nyampe Orlando tanggal 26 Februari, jam 11 malem. Kemudian nyampe hotel sekitar jam 2 pagi, tanggal 27 Februari. Tapi gue nggak akan dikasih kamar kalo gue booking-nya untuk tanggal 27 Februari. Dengan demikian, gue harus book kamar dari tanggal 26 Februari.

Rugi? Yaiyalah. But do I have a choice? No. *rampok bank*

So Etihad it is.


A little reminder...

Tadinya gue mau beli tiket Emirates, karena dia sempet ngeluarin harga promo. Gue berencana beli tiket langsung dari website-nya, karena jauh lebih murah daripada harga travel agent. Bahkan lebih murah daripada website-website semacam Kayak dan Orbitz.

Masalahnya, limit kartu kredit gue nggak nyampe untuk beli tiketnya (KISMIIIN, AKU JATUH KISMIIIIN), sehingga gue mesti pinjem kartu kredit Teguh, yang limitnya lebih tinggi daripada limit kartu gue.

Masalahnya lagi, Emirates nggak nerima kartu kredit lain selain kartu kredit sang penumpang. Saat check-in nanti, kita harus bawa kartu kredit yang bersangkutan. Plus, sang pemilik kartu pun harus berstatus sebagai penumpang. Bet ribet, taiye.

Emirates menawarkan metode pembayaran lain, yaitu transfer lewat Western Union. Tapi gue (lagi-lagi) maleees. Maleees meluluuu, pantes negara nggak maju-maju :)))

Hal tersebut adalah salah satu alasan gue berpaling ke Etihad. Mereka mau menerima pembayaran dengan kartu kredit lain (bukan kartunya sang penumpang), asalkan pas check-in kita bawa fotokopi kartu kredit dan paspor sang pemilik kartu. Same goes with Qatar.

Jadi ya, begitulah...

Where? (versi hotel)
Seperti yang sudah gue singgung disini, Walt Disney World mempunyai lebih dari 30 hotel resmi. Ada hotel yang nggak resmi? Adin, bok. Hotelnya nggak pake jas, zzz. *becandaan iRadio*

Apa bedanya?

Hotel resmi:
  • Umumnya disebut onsite hotel, karena berada di dalam kawasan Walt Disney World.
  • Berada dalam jalur free transportation Walt Disney World. Jadi kalo mau menuju/pulang dari theme parks, water parks, atau Downtown Disney, kita tinggal naik bis internal atau monorail gratis, langsung dari lobi hotel. Kalo di Universitas Indonesia, ibaratnya bis kuning, lah, yang bisa nganterin kita dari kampus ke kampus tanpa bayar #wearetheyellowjackets #ciealumni
  • Dekornya bertema Disney, mulai dari karpet, bedding, toiletries, dll. Ya iyalah...
  • Tamu hotel resmi bisa mendapat berbagai macam keuntungan, mulai dari aneka ragam diskon, Extra Magic Hours (di hari-hari tertentu, bisa masuk theme park sejam lebih awal, dan pulang dua jam lebih telat dari opening hours), dan banyak lainnya.

 Peta hotel-hotel di Walt Disney Resort

Hotel nggak resmi:
  • Umumnya disebut offsite hotel, karena berada di luar kawasan Walt Disney World.
  • Tamu offisite hotel nggak dapet free transportation. Pengunjung yang nginep offsite biasanya bawa mobil sendiri.
  • Dekornya nggak bertema Disney, meskipun beberapa offsite hotel ada yang berinisiatif menyediakan bedcover gambar Miki Mos, misalnya, hihihi. Beberapa offsite hotel juga nyediain shuttle bus gratis ke theme parks.
  • Harganya jauh lebih murah daripada onsite hotel, kamarnya juga lebih luas, tapi kualitas servisnya (biasanya) dibawah onsite hotel.
Mungkin ada beberapa perbedaan lain, tapi yang gue inget utamanya itu, lah. 


Hotel resmi alias onsite hotel di Walt Disney World terbagi menjadi tiga kelas:

Values – paling murah, ukuran kamarnya paling kecil, nuansanya tetep Disney, tapi kerasa paling murahan, hihihi.

Bentuk Values pun bukan bener-bener hotel, tapi lebih menyerupai ‘motel’ khas Amerika. Misalnya, temboknya tipis, nggak punya balkon, dan lorongnya ‘outdoor’ / menghadap keluar. Bangunannya pun nggak tinggi, tapi menyebar luas, dan nggak tersambung dengan lobby.

Values nggak punya ‘restoran’, hanya foodcourt. Values juga nggak mengenal pembagian kelas kamar seperti superior, deluxe, suite, dll. Semua sama rata—standard!

Ini bukan penampakan hotel Disney yaaa, melainkan penampakan motel khas Ameriki...


... nah, ini salah satu hotel Values di WDW. Motel-ish, 'kaaan.

All-Star Movies, All-Star Music, All-Star Sports, Pop Century, Art of Animation, etc.

Moderates – harganya menengah, ukuran kamarnya kurleb sama dengan Values. Nuansanya lebih classy, nggak ‘sekamse’ Values, dan fasilitasnya sedikit lebih baik daripada Values.

Bentuk Moderates juga menyerupai ‘motel’, bukan hotel.

Sebagian Moderates punya pembagian kelas kamar, sebagian lagi enggak.

Salah satu hotel Moderates di WDW. Also motel-ish.

Deluxes – Ketebak lah, yaaa… Paling mahal, paling bagus, fasilitasnya paling lengkap, dan bentuknya beneran hotel, dengan lobby, ballroom, hallway, lorong indoor, restoran cantik, dan sebagainya.

Deluxes juga punya akses monorail menuju theme parks, yang mana jauh lebih cepet dan praktis daripada bus internal.

Grand Floridian, Contemporary Resort, Animal Kingdom Lodge, Wilderness Lodge, Polynesian Resort, etc.

Lobby Grand Floridian T___T Samdei, yaaa.

Nah, lo dan Dara nginep di mana, La?

Berhubung trip ini akan sangat didedikasikan untuk Disney, so pasti kita nginep onsite. Lebih mahal daripada nginep offsite, tapi lebih praktis dan memberi banyak keuntungan. Lagian kalo nginep di offsite rempes juga yaaa, karena kami nggak sewa mobil.

Hotel onsite yang mana? Can you guess? Ya, untuk jiwa-jiwa kere gini, udah pasti milih Values lah, yaaa…

Dari kesekian Values yang tersedia, kami milih… Pop Century resort!


Pop Century ini temanya dekade-dekade abad 20-21, ceileeeh… Jadi ada section yang bertema tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an, 1980-an, dan1990-an dengan dekor yang berbeda-beda.

1950's section

1960's section

1980's section


Lobby Pop Century. Yang di tembok, tuh, berbagai memorabilia dari setiap dekade.

Pop Century nih—secara luas properti—geda banget, karena gedung-gedungnya menyebar banget. Kolam renangnya aja ada tiga biji. Jumlah kamarnya… ribuan kali, ya? Nuansanya rame, colorful, menyenangkan, agak norak bin kitschy, padet pengunjung yang rada alay (alay-nya Amerika), but still bearable, lah.

GEDA!






Alasan-Alasan Gue Milih Pop Century:
  • It’s a Value hotel! Kalo punya duit, sih, maunya nginep di Grand Floridian.
  • Di kelas Values, Pop Century nih harganya menengah. Lebih mahal daripada hotel-hotel All-Stars, lebih murah daripada Art of Animation.
  • Bis internal-nya direct menuju theme parks. Beberapa onsite hotel bis internal-nya sharing. Jadi saat menuju/pulang dari theme parks, si bis mampir-mampir dulu ngejemput/nganterin penumpang dari hotel-hotel lain. Nah, bis-nya Pop Century nggak begitu.
  • Food court-nya terkenal paling enak dibandingkan Values lainnya.
  • It's cheesy but it's fun, seswei lah sama kepribadian...
Ah, tapi semisal gue harus bobok di gorong-gorong pun, aku pun tak akan rewel. I would be in Disney, my happiest place on earth, how lucky could I be?

Pop Century, tunggu kamiii…!

4 comments:

Renny said...

Leijaaa, gw SR tapi kayanya udah pernah komen deh. Anyway, mau ngomenin yg Japan Airlines transit 11 jam di Jepang. Sekitar 4-6 taun lalu gw bbrp kali bolak balik Jkt-Chicago, transit Narita. Itu selalu dikasih hotel free (Nikko Narita), ada free shuttle juga, dari hotel jg bisa jalan2 ke kota Narita, lumayan lah jajan2 ramen n takoyaki. Trus visanya bisa pake visa transit on arrival. Free juga untuk 72 jam saja. Telat yak info gw? heueuhehueuhe... ya siapa tau next time kepake. Have fun in Orlando!

Leija said...

Renny: Hoyaaa? Mak Bapak gue langganan naik ANA / JAL kalo ke Chicago, kok nggak bilang sih dapet gratis-gratisan gituuu? Hahaha.

Btw, gue sempet booking di website ANA, hampir bayar, tapi nggak ada info juga hihi. Surpris kali yaa...

Anna said...

Salam kenal mbak.
Beberapa minggu terakhir ini saya browsing pengalaman orang Indonesia yang pernah liburan ke Florida, sama sekali nggak nemu blog ini.
Pas lagi browsing tentang Emirates, eh malah nyangkut di sini, hehe.
Kami rencana mau ke WDW juga bulan November ini mbak, jadi blog ini membantu banget.
Dan bener, susah nemu blog orang Indonesia yang nulis tentang liburan di Florida, mungkin karena jarang maskapai internasional yang langsung ke sana, umumnya transit dulu di LA atau NY.
Emirates yang kami pilih pun rutenya jadi Orlando-NY-Dubai-Jakarta, dengan total perjalanan 36 jam.
Yuuukkk... ini rekor buat keluarga kami :D

Leija said...

Anna: Hai Anna! Wah, seru banget siiih mau ke WDW sekeluarga. November is a great time to go there, periode pilihan pertamaku tuh :) Iya, rute Jakarta - Orlando emang jarang ya. Emirates should be nice, yang pasti lebih oke daripada Etihad hehehe. Have fun yaaaa.